joebi7

Keep Calm and Smile

SOMBERE NA SOTTA, sebuah kisah kearifan local.

Beberapa hari ini saya ikut ‘short course’ optimalisasi internet di Sulapa Media​, biasanya jadwal kuliah itu pukul 19.00 Wita, berhubung hari ini (03.08.15) ada beberapa urusan sebelum kuliah saya putuskan untuk datang lebih awal.

Pukul 17.30 wita saya sudah di lokasi, Sulapa Media berlokasi di jln. Beruang no 20C, yang mana berdekatan dengan jl Tupai, Jln Onta Lama, & jl Onta Baru. Waktu Maghrib di Makassar saat ini adalah 18.04 berhubung sudah dekat Maghrib saya mencari Masjid terdekat. Ada dua Masjid terdekat dari Sulapa media ada yg dijalan Tupai & ada di jln Onta Baru. Saya memilih sholat Maghrib di Masjid jln Onta Baru, yang rasanya lebih dekat dari sulapa media.

Saat tiba di Masjid tersebut anak-anak TPA di Masjid sedang berlari-larian sambil ‘menikmati’ lantunan tarhim menjelang azan, memang saat tiba di Masjid masih ada setengah jam sebelum waktu kumandang azan, setelah mengambil wudhu & masuk ke masjid saya duduk di salah satu sudut masjid sambil menikmati suasana ramainya santri TPA berlari-larian, tak ada niat sedikitpun untuk menghentikan mereka toh belum azan ini.

Beberapa saat saya duduk dimasjid tersebut, anak-anak didik TPA tersebut bermain, berlarian disekitaran tempat saya duduk menunggu azan. setelah saya perhatikan ternyata ada sepasang mata dari sekumpulan anak-anak tadi yang memperhatikan saya, dan dengan ‘Sombere’-nya dan ‘sotta’-nya anak kecil tersebut berkata “Kita pasti supir taksi yg lewat depan rumahku tadi to…” dengan tersenyum saya menjawab “bukan saya…” pada saat itu memang saya menggunakan kemeja berwarna biru yang identik dengan seragam pengemudi taksi, dengan tersenyum seolah sedang berbicara dengan orang yang sangat akrab denganya anak kecil itu berkata “Edede… mengaku maki… saya lihat jaki di Ta’sita” dialeg khas anak-anak Makassar era 90an yang baru saya dengarkan kembali. Dialeg dijaman handphone adalah barang sangatlah super eklslusif, dialeg saat baku ‘bombe’ dilakukan ketika ada teman yang tidak sepaham dengan kita, dialeg dimana baku bombe ditandai dengan jari kelingking saling beradu, dialeg dimana belum mengenal ‘block teman facebook’, ‘delete contact bbm’ & ‘Unfollow akun twitter’ teman yang tidak sepaham dengan kita.

Dengan ‘Sombere’ dan ‘sotta’nya anak ini bertanya kepada saya “dimanaki tinggal om…” dengan senyum yang sedeikit nyinyir saya menjawab “Di Daya ka tinggal…” dan si anak kecil inipun bertanya “kita kenal anu om… eh siapa lagi namanya inie…” pada saat si anak bertanya, pikiran dan kenangan saat smp mucul layaknya menonton film. Saat dimana kita memulai percakapan bukan dengan “PING!!!” atau mengirimkan Stiker lucu, saat dimana kita memulai berkenalan dengan menanyakan “Weh anak manako nah..”, “oh.. nukenalki anu..”, “Ikh seringka main disana..” & beberapa hal lainnya yang belakangan kita tahu bahwa itu hanya basa-basi untuk memulai percakapan. Percakapan yang mata dan kepala tegak lurus melihat lawan bicara yang kita hadapi, bukan percakapan yang tunduk, tersenyum melihat layar gadget kita.

‘Sombere’ yang maknanya ramah pembawaannya, mampu bersosialisasi tanpa pandang ada kepentingan, ketika bertemu dengan orang yang baru dialah yang memulai menegur sapa dan ‘Sotta’ singkatan dari sok tahu yang banyak anak muda kekinian gunakan “Sotta inie…” selayaknya dia yang paling tahu. Iya sombere dan sottanya anak kecil ini yang membuatku tahu namanya Agus sesaat setelah saya tanyakan “Kelas berapa maki?” dengan penuh keakraban dia menjawab “Kelas 4 maka saya, Agus namaku saya om.. kita siapa namata?”.

‘Sombere’ dan Sottanya Agus lah yang mengingatkanku bahwa sejatinya kita adalah orang-orang yang Sombere.. bangsa yang penuh dengan keakraban & keramah tamahan. Somberenya Agus yang mengingatkan saya hal inilah yang sejatinya harus ditanamkan kepada penerus kita. Sikap keakraban dan keramah tamahan.

Dengan somberenya Agus pun bertanya “Adami anakta om…” pertanyaan itu seperti… *kemudian curhat*

Advertisements

Every Day Is a Lucky Day

Bira Beach, Bulukumba. Sulawesi Selatan